Posted by: izza on: January 18, 2012
Biarkan putih ini tetap menjadi putih..jangan biarkan ia menjadi hitam apalagi jelaga..
Posted by: izza on: September 14, 2011
Setiap pagi, saya melalui gang yang sama dengan pemandangan yang sama, hamparan sampah. Gunungan sampah di depan rumah adalah pemandangan biasa di sepanjang jalan itu. Mungkin penghuni daerah tersebut menganggap halaman rumah mereka adalah tempat sampah. Tumpukan sampah lebih menggunung lagi di halaman muka sebuah toko di sudut gang itu, ada bungkus snack , wafer, gelas minuman ringan. Bila melongkok ke dalam parit, jika memang masih di namakan parit, air tak lagi mengalir karena gunungan sampah menghambat lalu lintas air di situ. Jelas lingkungan ini tak akan memenangkan adipura.
Saya bertanya-tanya, siapa yang mereka salahkan saat banjir melanda. Jika sampah itu adalah sisa rumah tangga mereka, mengapa mereka menyalahkan pemerintah? Jika banjir memang menyengsarakan mereka, mengapa mereka masih saja membuang sampah seenaknya?
Saya, sebagai pejalan kaki yang setiap hari melewati gang itu, merasa bertanggung jawab atas tidak sehatnya lingkungan mereka. Namun saya tidak tahu harus berbuat apa; Memasang pemberitahuan untuk tidak membuang sampah sembarangan? Saya yakin mereka sudah tahu itu. Menyediakan tong sampah di sana? Saya rasa hal itu juga bukan solusi yang indah. Contoh lah yang mereka butuhkan. Anak membutuhkan contoh dari orangtuanya. Orangtua membutuhkan contoh dari ketua RT-nya. Dan jika para panutan itu memberi contoh untuk tidak membuang sampah sembarangan, maka seluruh penghuni daerah tersebut akan mengikuti. Dan gunungan sampah pun tidak ada lagi.
Posted by: izza on: January 15, 2011
Tanggal 25 November 2010 merupakan hari yang telah lama kami nantikan. Bukan Karen Opit ultah tentunya. Pagi itu kami pergi melancong ke negeri seberang, Singapura dan Malaysia.
Ini adalah petualangan pertama kami ke luar negeri. Oleh karena itu, sebelum pergi, kami browsing informasi sana-sini. Dan percayalah!! Hal ini sangat berguna. Terbukti, dengan informasi tersebut, proses check-in dan imigrasi kami di bandara Soekarno-Hattta berjalan dengan lancar. Tapi, setelah melewati imgrasi, ternyata kegelisahan masih meliputi Sari. Sari gelisah karena dia membawa tas kabin yang menurut salah seorang crew AA di counter check –in harus di taruh di bagasi. Dan kegelisahan Sari sirna begitu dia berhasil masuk pesawat tanpa pertanyaan babibu dari crew AA lain di pesawat. PELAJARAN TRAVELLING #1: JIKA BAWA TAS KE KABIN, BAWALAH TASMU SEOLAH-OLAH TAS MU RINGAN!!
Kami tiba di Changi Airport 1,5 jam kemudian. Setelah puas berjalan –jalan di bandara yang seperti mal itu, kami menuju terminal 3 untuk naik MRT ke arah kota. Sialnya, begitu sampai di area imigrasi terminal 3 yang sepi,kami mendapat “sambutan yang kurang bersahabat” dari para petugas imigrasi. Iya sih, ini salah gw yang dengan sok tahunya ngajak yang lain keluar dari terminal 3 aja, maksud hati biar lebih deket ke stasiun MRT arah kota. Tapi ternyata TIDAK BOLEH SAUDARA2!! Semua penumpang yang turun di terminal 1 harus keluar imigrasi terminal 1 dan setelah keluar imigrasi baru naik shutle train ke terminal 3 untuk naik MRT ke arah kota. Untungnya sih, mereka masih berbaik hati karena tidak menyuruh para gadis belia yang membawa tas besar ini balik lagi ke terminal 1. Piuh!
Setelah ceramah singkat dari petugas imigrasi tersebut, kami langsung ke stasiun MRT arah kota. Ah akhirnya!! Yuk kita santai!! Tapiii..tapiii, di stasiun Tanah Merah, kami semua menampakkan muka binggung dan bertanya-tanya “Loh ko ini kereta balik lagi?” Dan kami baru menyadari bahwa seharusnya kami turun di stasiun tersebut dan ganti MRT ke arah Bugis sesuai info di itenarary kami!! Oh…ya sudah lah..kami kembali lagi ke stasiun MRT Changi. PELAJARAN TRAVELLING #2 : LIHAT ITENARARY YANG KAU BAWA!!
Dua puluh menit kemudian, kami sampai di stasiun MRT Bugis (setelah ganti kereta ke arah Joo Koon di Tanah Merah). Lalu kami berjalan selama kurang lebih 20 menit ke arah ABC Backpacker Hostel, tempat penginapan kami, di jalan kubor. Piuh!! Ayo semangat!!!! Ya, atas nama penghematan, kami menginap di kelas dormitory dan siap berbagi dengan orang lain. Walaupun demikian, domitory hostel ini bersih dan sangat recomended bagi para wisatawan yang ingin berhemat.
Sebenarnya kami masih lelah, tapi karena takut kehilangan banyak waktu, setelah isho-istirahat dan sholat (makannya belum) kami pergi ke Vivo City untuk menyebrang ke Sentosa Island. Kali ini kami memilih menggunakan bis tingkat. Dengan maksud agar kami dapat sight seeing kota Singapore sore ini. Kami tiba di Vivo City pukul 04.00 sore. Dan cuaca kurang mendukung kami kala itu. Hujan turun dengan derasnya sehingga kami nggak bisa berpose di teras Vivo City yang menghadap Harbour Font. Namun semangat kami untuk ke Sentosa Island nggak luntur. Kami tetap memesan tiket skytrain ke Sentosa Island + tiket Song of The Sea seharga 13 SGD (Sebenarnya kami nggak perlu membeli tiket skytrain karena kami memiliki EZ Link, kartu transportasi di Singapura, tapi kami baru menyadari hal itu di kemudian hari -PELAJARAN TRAVELLING #3: MALU BERTANYA, SESAT DI JALAN!!). Kami tetap ingin menyaksikan pertunjukkan Song of The Sea dan berpose di depan Universal Studio Singapore. Pokoknya harus!! Setelah makan sore di Banquet, restoran halal yang terdapat di lantai dasar Vivo City, kami naik skytrain ke Sentosa Island.
Senja dan hujan menyambut kami saat kami tiba di Beach Stasion, Sentosa Island. Ternyata pertunjukan Song of The Sea masih cukup lama. Bermain di pantai, rasanya nggak mungkin. Karena gelap dan hujan. Akhirnya kami berkeliling dengan mobil safari. Awalnya gw mengira pertunjukan Song of The Sea akan biasa saja. Namun di luar ekspektasi, walupun ceritanya agak garing, tarian air terjun dan efek yang diberikan mampu menghibur semua penonton. Usai pertunjukan, kami mengerjakan misi kami selanjutnya, berpose di Universal Station. Setelah misi hari ini selesai dan mengingat waktu juga sudah malam, kami langsung pulang ke penginapan kami di Bugis dengan menggunakan MRT.
Keesokan harinya, hari kedua, pertulangan kami diawali di Merlion Park dan sekitarnya. Kami berfoto di setiap sudut dari taman ini; dengan latar Swiss Hotel, Fullerton, Esplanded, dan perahu river cruise. Setelah itu, kami berjalan menyusuri Boat Quay, melewati Asian Civilization Museum, Rafles Landing Site, Parlianment House, Supreme Court, Funan, dan berakhir di Fort Canning Park, sebuah bukit di tengah kota Singapura. Karena penasaran dengan view taman di atas bukit itu, kami menanjaki ratusan anak tangganya. Piuh!! Betis mulai berkonde. Untungnya, di depan kediaman rafles diatas bukit ada kran air siap minum. Ya, istirahat dulu sambil makan cemilan dan nungguin Andrew (loh??cie Isti!!).
Selepas istirahat, kami melanjutkan perjalanan kami ke arah stasiun MRT City Hall di Rafless City Plaza untuk pergi ke Science Center di Jurong. Awalnya, kami ingin langsung pergi ke Jurong. Tapi ternyata perut kami tidak mengizinkan. Akhirnya kami makan siang dulu di Rafles City Plaza. Setelah kenyang, kami langsung naik MRT tujuan akhir Joo Koon dan berhenti di Jurong East. Tidak lebih dari 45 menit, kami telah tiba di Jurong East. Karena ketidaktahuan kami, kami memutuskan untuk naik bis ke arah Science Center. Padahal Science Center cukup dekat. Hanya sekitar 20 menit berjalan kaki dari stasiun MRT Jurong East.
Di Science Center, kami memutuskan untuk mengambil paket bermain di Snow City dan Science Center dengan harga tiket 16 SGD (10SGD untuk Snow City; 6 SGD untuk Science Center). Kami hanya memiliki waktu kurang dari empat jam untuk bermain di arena ini. Karena saat kami tiba di sana waktu sudah mennujukkan pukul 14.30 sementara Science Center tutup pukul 18.00. Tak mau berlama-lama, kami memutuskan untuk bermain di snow city terlebih dahulu. Bagaimana kesan bermain di sini? Yah, untuk membayar rasa penasaran, harga 10 SGD worthed lah. Tapi untuk kedua kali, kami sepakat akan berpikir kembali.
Waktu menujukan pukul 16.30 ketika kami usai mencetak foto dan bermain di Snow City. DAN KAMI BELUM SHOLAT ZUHUR-ASHAR!!! Sayangnya nggak ada musholah atau pray room di area ini. Maka, kami memutuskan untuk sholat di connection area antara Science Center dan Snow City yang cukup sepi. Tapi KAMI TIDAK TAHU ARAH KIBLAT!! Dengan bismillah, kami memutuskan arah kiblat adalah ke arah tembok (dengan bantuan melihat arah matahari tenggelam tentunya). Pukul 17.00, kami baru memasuki area Science Center. Sangat tidak puas! Karena kami hanya menikmati secuil area itu (udah tutup). Hiks!
Perjalanan belum berhenti sampai di sini. Kami melanjutkan petualangan kami ke IKEA. Intan bersama asistennya, Isti, memandu kami dengan cukup baik ke sana. Ia bertanya sana-sini dan maping area terlebih dahulu. Alhasil, kami sampai di IKEA Building dengan selamat sentosa. Dan penutup petualangan hari ini adalah makan malam dengan setangkup hotdog 1 SGD di lantai dasar IKEA. Mantab!!
Sesampainya di penginapan, malam ini kami mendapat kejutan. Kami yang semula hanya berenam dalam satu dorm, kini mendapat tiga teman baru. Sepertinya mereka dari Perancis. Itu sih nggak masalah. Masalahnya adalah MEREKA BERKROMOSOM XY alias LELAKI!! Oh My!! Sejak ketiga makhluk itu bertengger di kasur mereka, suasana kamar yang ramai menjadi sunyi senyap hingga esok hari.
Esok pagi kami telah berkemas dari dorm, meninggalkan bulu-bule yang masih terlelap itu (Bukan Ayu tak simpatik padamu Monsiuer! Tapi karena hari ini adalah hari terakhir kami di Singapura dan hari ini kami akan belanja, makanya kami pergi duluan!! Au revoir Monsiuer!). Tujuan pertama kami adalah Mustofa Center, di Little India. Karena toko ini buka 24 jam sehingga tidak masalah jika kami datang lebih pagi. Belum puas berbelanja di Mustofa Center, kami pergi ke Orchard, Suntec City, dan Bugis Street. Sayangnya, kami lupa mensurvei harga pasar terlebih dahulu. Karena ternyata tempat terakhir kami berbelanja, Bugis Street yang tidak jauh dari tempat kami menginap, memilik barang dengan harga yang cukup murah dibanding yang lain. Dan kami mengetahui hal itu saat dolar kami menipis dan barang belanjaan kami telah mengunung.Pelajaran Travelling #4 : Survei Harga Oleh2 itu penting!
Untuk menghemat waktu, setelah berbelanja, kami mengemas semua belanjaan kami di Sultan Mosque (nggak jauh dari Bugis Street dan ABC Backpaker). Untungnya mesjid ini sepi (mungkin karena waktu Maghrib sudah lewat) jadi kehebohan yang kami buat di tempat wudhu wanita tidak mengangu jamaah lain. Usai sholat jama’ Maghrib-Isya dan berkemas, kami berjalan ke arah Queen Street untuk menumpang bus ke Johor. Karena kami khawatir ketinggalan bus, kami pun menaiki bis seadanya tanpa memikirkan kualitas bis itu. Kami menumpang Air-Con Express seharga 2,4 SGD. Padahal seharusnya kami dapat menumpang bis SBS 170 seharga 1,6 SGD dan menggunakan sisa deposit EZ Link kami. Ya sudah lah!! PELAJARAN #5: DON’T BE PANIC AT YOUR TRAVELING.
Perjalanan ke Johor memakan waktu kurang lebih dua jam. Di tengah perjalanan kami harus turun untuk dua kali untuk check point. Berbekal informasi dari website, kami telah menyiapkan semua dokumen keimigrasian agar lebih efisien saat di imigrasi. Namun, manusia memang tempatnya salah dan lupa, dokumen imigrasi masuk Singapore Isti terselip. Alhasil, kami tertinggal bis kami menuju Johor. Kami pun harus menunggu bis yang sama, Air-Con Express, berikutnya. Sayangnya, bis tersebut sangat jarang. Perut lapar menambah ketidaknyamanan kami, terutama gw. Bahkan gw tidak mengindahakan percakapan Sari dengan pak cik bernama Safee Muhammad Salee (lah ini mah pemain bola??-Gw lupa namanya siapa). Setelah kurang lebih 40 menit menunggu, bis kami datang. Dan lima menit kemudian kami telah memasuki negara Malaysia.
Namun kekhawatiran kami belum berhenti sampai di situ. Setelah melewati imigrasi Malaysia, bis yang kami tumpangi tadi telah meninggalkan kami. Maka kami pun harus menunggu bis Air-Con Ekspress berikutnya lagi. PELAJARAN TRAVELLING #6: TETAP..DONT BE PANIC!! KHAWATIR BOLEH!!
Waktu menunjukkan pukul 11.55 malam dan kami belum tiba di Larkin Bus Station. Padahal, menurut kabar, bis terakhir dari Johor ke KL adalah jam 12.00 malam. Dan kami pun pasrah jika ketinggalan bis dan harus menginap di Larkin Bus hingga besok pagi. Namun, saat tiba di Larkin Bus Station, ada seorang calo yang menawarkan bis ke KL dengan harga 30 MYR. Tanpa pikir panjang, kami langsung mengiyakan tawaran calo itu. Begitu transaksi selesai, kami langsung naik ke bis. Dan tahu kah engkau kawan? Beberapa counter tiket bis ternyata masih buka dan bis itu baru jalan pukul 01.30 malam!!
Esoknya, 28 November 2010 pukul 05.30, kami tiba di Bukit Jalil, Kuala Lumpur. Tujuan kami adalah hostel Anjung KL di Bukit Bintang. Maka, kami melanjutkan perjalanan dengan Rapid KL ke Bukit Bintang. Setelah check-in hostel, mandi, dan sarapan, kami melanjutkan perjalanan ke Genting. Menurut petunjuk, kami harus ke KL sentral terlebih dahulu dan dari sana kami melanjutkan perjalan dengan bis Genting Express dengan harga 9.3 MYR, termasuk skyway. Namun, ketika kami sampai di sana, BIS SUDAH BERANGKAT. Dan kami harus menunggu jadwal berikutnya, yaitu pukul tiga sore padahal saat itu masih jam 11.30. Awalnya, kami panik dan memutuskan untuk ke stasiun terdekat demi mengejar jadwal bis Genting Express pukul 12.00. Tapi ,akhirnya, kami kembali ke KL Sentral dan menunggu bis Genting Express selanjutnya. PELAJARAN TRAVELLING #7: MASIH JANGAN PANIK! SIAPKAN PLAN B!
Rasa lelah kami langsung terbayar saat kami menaiki Genting Skyway. Sebenarnya, pemandangan jurang di bawah Genting Skyway nggak lebih bagus dari pemandangan di kawasan Puncak Jawa Barat tapi keberadaan kereta gantung-nya membuat kami sangat terhibur.
Waktu kami tak banyak di Genting, hanya empat jam, karena kami harus kembali ke Genting Skyway Lower Station pukul 06.00 untuk kembali ke KL pada pukul 07.00 malam. Tak mau menyia-nyiakan kesempatan ini, kami langsung berkeliling mencari permainan yang kami sukai. Akhirnya kami semua memilih flying coaster. Setelah puas bermain dan berpose di First Wolrd Theme Park Genting, kami kembali ke KL. Dan Tak lupa Isti membawa oleh-oleh..foto Bonculai jadi-jadian! Hehehe..
Karena tidak mendapatkan bus ke KL Sentral, kami menumpang bis ke arah terminal Putra/Gombak. Tujuan kami selanjutnya adalah menara kembar Petronas/KLCC (Kuala Lumpur City Center). Dari terminal Putra, kami naik MRT ke arah Kelana Jaya dan turun di KLCC. Sebelum berpose di bawah menara kembar, kami makan malam dan window shoping dulu di Mal KLCC. Saat KLCC tutup, kami keluar dan mulai membidik angle terbagus untuk pose. Tetapi, malang tidak dapat ditolak, Desya nggak bawa payung maka tandanya..hujan akan turun (heh?). Dan byur!! Pestanya bubar!! Karena nggak mau kehilangan momen di sini, kami tetap memaksakan diri berfoto di bawah hujan dengan pengorabanan juru kamera kami, Sari (thansk a lot sari). PELAJARAN TRAVELLING # 8 : BUTUH KENEKATAN.
Setelah itu, masih dalam keadaan hujan, kami berjalan kaki ke arah Bukit Bintang. Di tengah jalan, badan kami sudah basah kuyup dan akhirnya kami memutuskan naik taksi saja untuk ke hostel. ALHAMDULILLAH, supir taksinya baik banget (di luar ekspetssi kami karena katanya supir taksi suka nipu!). Dan kami sampai di Anjung Hostel dengan selamat. PELAJARAN TRAVELLING #9: sometimes your informan doesnt tell the truth!
Keesokan pagi, kami berkemas kembali untuk check-out dari hostel. Tujuan kami selanjutnya adalah KL Tower. Dari Bukit Bintang kami hanya berjalan kaki untuk mencapainya. Saat kami dalam perjalanan, kami berpapasan dengan beberapa wanita Malaysia yang tengah berangkat kerja. Hampir semuanya memakai baju kurung pada hari itu, hari Senin. Mungkin, seperti bangsa Indonesia yang diwajibkan memakai batik pada hari Jumat. So, batik punya kami toh?
Sesampainya di gerbang KL Tower, keberuntungan menghampiri kami lagi. Seorang Pak Cik menawari kami tumpangan hingga ke kaki KL Tower. Lumayan..tumpangan gratis! Sebenarnya ada shutle bus dari gerbang ke kaki KL Tower tapi bis tersebut belum beroperasi saat kami tiba. Beruntunglah Pak Cik itu datang sehingga kami bisa menikmati KL Tower lebih dekat walaupun nggak sampai puncak (kalau mau naik ke puncak KL Tower harus bayar 24 MYR-if i am not wrong).
Setelah mengunjungi KL Tower, kami terbagi menjadi dua rombongan. Rombongan pertama yang terdiri dari Ayu, Sari, Intan, dan Desya memutuskan untuk pergi ke Sungai Wang. Sedangkan rombongan kedua: gw dan isti yang pulang ke Indonesia lebih dulu, memutuskan untuk ke Mesjid Jamek, Dataran merdeka, dan Bangunan Sultan Abdul Samad dulu.
Tidak banyak cerita yang dikisahkan oleh rombongan pertama selain harga coklat Beryls yang ternyata lebih mahal di sungai Wang daripada di KL Sentral. Setidaknya demikian yang diceritakan Desya pada kami. Sedangkan rombongan duet maut, Izza dan Isti, mengalami petulangan seru. Seperti sales yang menjajakan barang, kami berdua menelusuri jalan dari KL tower hingga stasiun Dang Wangi membawa tas backapck ukuran kabin. Di depan stasiun Dang Wangi, untuk menghilangkan rasa penasaran, kami memutuskan untuk ke mesjid Jamek terlebih dahulu. Demi mempersingkat waktu, kami naik taksi. Dan ternyata jarak Dang wangi- Mesjid Jamek tidak jauh. Setelah berfoto di Mesjid Jamek, masih dengan tas ’eliminasi’, kami berjalan menuju Bangunan Sultan Samad yang ternyata merupakan Kementrian Penerangan, Komunikasi, dan Kebudayaan Malaysia. Di depannya, terdapat Dataran Merdeka yang berbentuk lapangan upacara dengan tiang berbendara Malaysia di salah satu tepinya. Setelah puas berfoto di sana, kami kembali ke stasiun Mesjid Jamek untuk menuju KL Sentral. Dan Alhamdulillah, kami datang tepat pada waktunya. Tak lama menungu, bis Aerobus langsung berangkat menuju LCCT.
Perjalan menuju LCCT memakan waktu kurang lebih 1,5 jam. Dan tragedi menimpa rombongan duet maut ini. Kami ke-gap membawa barang bawaan lebih dari 20 kg untuk dua orang. Alhasil, kami mengemas ulang tas backpack kami di Bandara, di tengah kerumunan calon penumpang pesawat. Lalu kami taruh satu tas yang lebih berat (tas Isti) di bagasi dengan membayar uang charge sebesar 20 MYR sedangkan tas yang lain tetap berada di kabin. Tujuannya adalah: BIAR LEBIH MURAH. Dan berhasil!! Kami berhasil tetap membawa satu tas backpack melewati imigrasi. Tapi kami sedikit jealous dengan seorang backapcker yang berhasil masuk dengan tas segede gaban (jauh lebih gede dari tas kami) dan berhasil melewati petugas.Hm..Ya sudah lah!
Setelah dua jam perjalanan, pasangan duet maut ini tiba kembali di tanah air. Di luar rencana, kami berdua akhirnya menunggu rombongan pertama yang tiba dua jam setelah kami. Setelah puas menceritakan kisah masing-masing setelah berpisah, kami menunggu bis DAMRI dan benar-benar mengakhiri petualangan kami sampai di sini.
Jakarta, 12 Januari 2011
Posted by: izza on: May 11, 2010
Setelah Andrea Hirata memperkenalkan Belitung sebagai setting Laskar Pelangi, Belitung menjadi salah satu tujuan wisata ternama ¬¬di Nusantara. Banyak wisatawan yang ingin berlibur ke sana. Termasuk saya. Awal April 2010 lalu, saya dan ketiga orang teman saya (Isti, Ka Yuli, dan Ka Bayu) berkesempatan mengunjungi pulau yang besarnya hanya ¾ luas DKI Jakarta.
Kami berangkat ke sana dengan menggunakan pesawat Sriwijaya Air. Sedikit kejengkelan mengiringi keberangakatan kami. Kami ketinggalan pesawat! (Ini bukan kesalahan kami sepenuhnya loh. Kami nggak dikasih tahu tentang perubahan jadwal keberangkatan. Piuh!). Walaupun demikian, semangat kami untuk pergi ke sana nggak surut. Kami komplain ke pihak maskapai dan ngotot untuk pergi ke Belitung hari itu juga. Alhasil, kami dapat kursi untuk penerbangan sore (lumayan daripada nggak pergi sama sekali).
Setelah 45 menit penerbangan, pesawat kami tiba di Bandara Hanandjoeddin. Guide dari Belitung Island. COM sudah menunggu kami . Oh ya, sebelum bertualang di Belitung, kami menyempatkan diri untuk berpose di papan nama lapangan terbang Bandara Hanandjoeddin dan berucap “kami di Belitung loh!”.
Tujuan pertama kami di pulau yang kaya akan timah ini adalah Tanjung Kelayang. Takjubnya bukan main. Kami berdiri disalah satu batu paling besar di tepi pantai. Dari tempat itu, kami melihat pemandangan sore yang sangat menakjubkan. Pohon kelapa yang tumbuh di atas pasir putih membuat pantai ini terlihat cantik. Batu-batu besar yang berdiri kohoh di tepi laut menambah anggun pantai Tanjung Kelayang di sore hari. Pantai semakin cantik dengan sunset sebagai latarnya. Indah sekali!
Malam harinya, Kami dibawa oleh guide kami menuju restoran seafood. Pada kesempatan ini, kami diperkenankan untuk berkenalan dengan anggota travel lain. Kami saling bertukar cerita. Setelah puas menikmati hidangan laut Beltiung (otak-otaknya enak loh!), rombongan kembali ke hotel.
Setelah bersih-bersih di hotel, kami berinisiatif untuk jalan-jalan di sekitar hotel yang letaknya bersebelahan dengan Jam Gede. Sayang, saat kami keluar, banyak toko yang sudah tutup. Kabarnya, toko-toko di Belitung hanya buka sampai jam 9 malam. Akhirnya, kami hanya jalan-jalan sebentar saja.
Hari kedua kami diawali dengan sarapan mi Belitung, mi dengan kuah , kami pergi ke pulau-pulau kecil di sekitar pulau Belitong.Semua pulau di sini sangat indah, dikelilingi bebatuan yang entah dari zaman kapan bertenggger di sana. Salah satunya pulau Lengkuas. Di pulau ini terdapat mercusuar dengan ketinggian 50 m. Karena penasaran, kami nekat menaiki mercusuar itu hingga ke lantai teratas, lantai 18 (klo nggak salah), walaupun hujan deras turun. Pengorabanan kami terbayar. Dari sudut mana pun, pemandangannya keren banget. Tapi, hati-hati! Lantai dan dinding mercusuar banyak yang sudah berkarat. Selain itu, angin laut juga terasa banget di atas. Kalau ceroboh, mungkin kita bisa jatuh.
Setelah puas bermain di pulau Lengkuas, kami pergi ke tengah laut untuk snorkling. Sayang , saya tidak ikut snorkling kali itu. Menurut Isti dan yang lain, Pemandangan alam bawah lautnya keren banget. Mereka menemukan bulu babi, Nemo dan ikan-ikan lain yang berwarna warni.
Pulau lain yang menarik bagi saya adalah Pulau Pasir. Pulau ini hanya terdiri dari gundukan pasir seluas 12 m2. Walaupun kecil, pulau ini tetap mempesona. Laut di sekitar Pulau Pasir juga banyak dihuni oleh kawanan Patrick, bintang laut dalam film Sponge Bob. Seorang guide kami dan beberapa orang pribumi Belitong sengaja menyelam ke dalam laut untuk mengambil bintang laut yang luar biasa besar. Lucu sekali!!
Selepas berkeliling pulau, kami melanjutkan perjalanan ke Tanjung Bingga. Di sini, kami menikmati pergantian senja menuju malam sambil menyantap makan malam dengan menu utama (tak lain tak bukan) seafood.
Hari ketiga adalah hari terakhir untuk rombongan tur kami, terkecuali kami sendiri. Karena ingin mencari tiket pesawat yang lebih murah, kami memutuskan extend di Pulau Belitung. Oleh karena itu, kami memtuskan akan pergi ke Belitong Timur hari ini.
Di Belitong Timur, Kami menapaki jejak Laskar Pelangi. Kami berkesempatan bertemu dengan Bu Mus yang asli, mengenang Ikal saat bersekolah di SD Muhamadiyah, dan membayangkan Ikal menyelam di bendungan Pice. Tidak hanya sampai di situ, kami juga mampir ke kedai kopi di Manggar. Sayang,karena waktu kami yang terbatas, kami tidak sempat ke pelabuhan Manggar. Dan terakhir, kami menuju pantai Tanjung Tinggi, tempat syuting Laskar Pelangi. Bagaikan Ikal, Mahar, Lintang, dan Sahara, kami pun berlari-lari di balik bebatuan yang tinggi menjulang.
Keesokan harinya yang merupakan hari terakhir kami di Belitong, kami menyempatkan diri untuk melihat tambang Kaulin sebelum ke Bandara. Tambang ini mirip dengan kawah putih yang berada di Ciwidey, Bandung. Hanya saja, tambang ini tidak berbau belerang. Jika tidak diberitahu, kami mengira tambang itu adalah sebuah danau dengan air berwarna biru muda dengan pepohonan di sekelilingnya.
Tujuan terakhir kami adalah Bandara. Kami datang terlalu pagi sehingga kami harus menunggu pesawat yang akan kami tumpangi di Bandara. Menunggu pesawat di bandara Hanandjoeddin seperti menunggu angkot di halte Blok M. Dari ruang tunggu, penumpang dapat mengetahui kedatangan pesawatnya. Lalu, saat sebuah pesawat mendarat, rasanya semua penumpang di ruang tunggu berdiri dan langsung antri masuk ke dalam pesawat. Kemudian ruang tunggu kembali sepi. Demikian pula saat pesawat Batavia Air tujuan Jakarta datang. Semua penumpang telah siaga saat pesawat itu baru saja mendarat. Ruang tunggu kembali ramai. Kami pun beranjak naik ke pesawat untuk kembali ke Jakarta dan beraharap suatu saat akan kembali berlibur di negeri Laskar Pelangi ini.
Posted by: izza on: May 3, 2010
Seperti novelnya yang sudah-sudah, Habiburahman El Shirazy juga membawa nafas dakwah dalam novel terbarunya, Bumi Cinta.
Novel ini mampu membawa saya untuk kembali mengingat Allah dan untuk berpegang teguh pada ajarannya di mana pun saya berada melalui sosok Ayyas. Fenomena yang diangkat dalam novel berrseting Moskwa ini juga sesuai dengan fenomena saat ini seperti terorisme dan perang di Palestina. Dua hal di atas menjadi nilai plusnya.
Namun, menurut saya, novel ini kurang memperhatikan detail penokohannya. Misalnya, di awal cerita, sang penulis menggambarkan sosok Linor sebagai gadis Rusia tetapi di akhir cerita ternyata Linor adalah gadis Palestina (menurut saya, rupa orang Palestina dan orang Rusia berbeda). Selain itu, alur peneceritaannya terlalu cepat seakan terburu waktu. Rasanya tidk mungkin jika semua kisah terjadi dalam kurun waktu 3 bulan saja.
Itu penilaian menurut gw,,,bagaimana menurut kalian?
Posted by: izza on: April 30, 2010

Apakah kamu sering makan kaasstengels? Kalau saya, sering. Apalagi jika lebaran tiba, kue kering ini lah yang saya cari. Gurih keju kastengels selalu mengoda lidah saya untuk mencicipinya. Selidik punya selidik, kaasstengels yang berati sebatang keju ternyata berasal dari Belanda.
Keju memang sangat terkenal di Belanda. Beragam jenis keju diciptakan di negeri ini. Sebut saja keju Gouda, Edam, dan Leiden yang sangat terkenal hingga ke mancanegara termasuk Indonesia. Bahkan salah satu produsen keju Indonesia di Baros mengambil keju Gouda sebagai kiblat pembuatan kejunya.
Lantas apa yang membuat keju asal Belanda menarik? Konon kabarnya keju asal Belanda memiliki rasa yang lebih manis (tidak terlalu asam dan terasa lembut) daripada keju lain. Rasa istimewa ini diperoleh dari pencucian dadih (gumpalan susu) dengan air hangat saat proses pembuatan keju tersebut. Dengan rasa lebih manis, keju Belanda sangat cocok dengan lidah konsumen yang tidak menyukai rasa asam seperti orang Indonesia.
Selain itu, ciri khas lain juga ditawarkan oleh keju-keju di Belanda. Keju Edam selalu diselimuti oleh lilin berwarna merah yang berguna untuk menghindari keju dari kekeringan. Keju Leiden beraroma jintan (cumin). Dan yang paling menarik adalah keju yang mempunyai rasa sedikit pedas, nail cheese atau clove cheese.
Melihat potensi keju yang dimiliki Belanda, Belanda melakukan inovasi di bidang perindutrian keju. Saat ini banyak keju yang telah dibuat dengan mesin-mesin pabrik. Walaupun demikian, Belanda masih mempertahankan dua persen petani keju tradisional di negerinya. Untuk membedakan keju buatan pabrik atau buatan petani, lihatlah labelnya! Label yang berbentuk kotak merupakan keju buatan petani. Sedangkan label yang berbentuk bulat merupakan keju buatan pabrik
Belanda pun melirik keju untuk menarik wisatawan. Dengan sedikit sentuhan seni, Belanda menjadikan pengangkutan keju di pasar keju Alkmaar sebagai objek wisata. Dan untuk mengikat memori kita akan indutrsi keju dari masa ke masa di Belanda, bangsa Belanda juga membangun museum keju di Alkmaar.
Betapa Belanda menghargai potensi yang dimiliki oleh bangsanya. Walaupun Belanda bukan penemu keju, Belanda unggul dengan kejunya. Walaupun Belanda negeri kecil, Belanda mampu menjadi pengekspor keju terbesar sejagad raya. Belanda so cheeselasious!
Posted by: izza on: January 26, 2010
Wisata ke Dufan sih biasa tapi wisata ke dufan tanpa ngantri itu yang nggak biasa. Yah, itu lah yang gw, Ayu, Burhan, Pman, dan Adin alami pada tanggal 9 Januari 2010 kemarin. Berkat bantuan Adin yang menjadi anggota klub Dufan, kami menikmati hampir semua aneka permainan di Dufan tanpa mengantri. Senang? Jelas! Baru kali ini kami (yu, burhan,pman..bener ini yang pertama kan?) masuk ke wahana permainan melalui pintu khusus dengan tulisan FAST TRACK, DUFAN CLUB. Tanpa perlu mengantri panjang, kami langsung menikmati permainan. Yipi!! Konsekuensinya, seribu mata di deretan antrian memandang kami dengan penuh tanda tanya. Mungkin plus sedikit sebal. Di Niagara, misalnya, kami mendapat sambutan “hangat” ketika kami berhak menyerobot antrian perahu dua orang pengunjung bule. Hihi..maap mister!! Kami duluan yah!!
Karena akses cepat itu, kami dapat menikmati 10 wahana (balada kera, bom-bom car, extreme log, arung jeram, niagaragara, ontang-anting, rajawali kondor, perang bintang, carousel [kuda2an tuh!!], dan alap-alap). Balada kera yang sebenarnya membosankan telah menghilangkan rasa penasaran gw, tetapi tidak memuaskan untuk kami. Di wahana adu pintar (perang bintang dan bom car), persaingan terjadi di antara kami (kayanya sih cuma para lelaki itu). Di Perang Bintang, gw yang berada di samping Pman melihat Pman berambisi untuk mengalahkan 2 lelaki yang lain, Burhan dan Adin (Adin yang menang!!). Di Bom-bom car, gw sering menjadi korban dari aksi ‘hebat’ para jagoan itu.
Wahana adu nyali memang masih menjadi wahana wajib untuk dikunjungi. Tapi karena nyali kami yang ciut (kami?? Lu doank kali Za!!), kami urung ke beberapa wahana seperti halilintar, tornado, kora-kora, kicir2 (maaf ya untuk pihak2 yang ngidam ke situ tapi nggak kesampaian). Walaupun begitu, rajawali kondor, alap-alap, extreme log, dan ontang-anting mendapat kesempatan untuk kami kunjungi. Yah, lumayan lah buat memacu adrenalin.
Ada kejadian yang patut ditertawakan saat kami menikmati ontang-anting dan extreme log. Sebelum ontang-anting take off (I dont know what its name), Burhan dengan jahilnya berniat untuk menendang sandal-sandal pengunjung lain. Eh beberapa saat, setelah ontang-anting mulai mengangkasa, gw yang kena tulah-nya. Sepatu gw ditendang (katanya) oleh pengunjung lain. Akibatnya, bagaikan cinderella yang mencari sepatu kaca, gw menyusuri wahana untuk nyari sepatu itu. Dan ketemu!! Sayang penemu ‘sepatu kaca’ itu adalah gw sendiri bukan pangeran!! (hehehe..). Di extreme log, gw yang berada di sebelah Burhan melihat dia tidur (yah mungkin cuma tidur-tiduran) sepanjang permainan. Dia mengira dia lagi dipijat refleksi kali!!
Sepanjang kami bermain di sana, kami sempat berfoto-foto. Dan foto yang paling berkesan adalah foto yang diambil oleh pihak Dufan saat kami naik Niagaragara. Di foto itu terlihat Adin berteriak penuh ekspresi, gw dan Ayu merem karena mengahayati peran (baca :takut), Burhan narik pundak Ayu karena tindakan refleks, dan Pman? Pman kayanya ngumpet di balik badannya Burhan atau sedang menyiapkan kostum pahlawannya (Pman2x..ku panggil dia Pman..suaranya riang!!).
Kami juga tetap main di arena basah-basahan (Niagara dan Arung Jeram) walaupun hujan. Akibatnya kami kedinginan. Awalnya, kami berharap baju kami telah kering di akhir permainan. Tapi, Tuhan berkehendak lain, hujan turun-reda sepanjang sisa waktu kami di sana. Alhasil, dengan baju masih lembab, gw mengigil saat pulang dengan mobil Pman yang ber-AC. But it was so much fun!!
Posted by: izza on: January 18, 2010
Banyak orang bilang snorkling di Pulau Pramuka tuh enak banget. Berbekal dengan rasa penasaran itu , gw dan teman-teman kuliah gw pergi ke Pulau Pramuka pada awal tahun 2010 kemarin.
Transportasi ke Pulau Pramuka
Untuk mencapai Pulau Pramuka, kami harus menumpang perahu kayu yang berlabuh di Muara Angke. Hm..buat gw pribadi, penyebrangan ini kurang menyenangkan karena gw sedikit mual dengan bau daging ayam dan amisnya ikan. Hal ini juga yang dialami oleh Desya, temen kuliah gw yang duduk di samping gw saat itu. Walaupun kami nggak vomiting (baca :muntah), kami merasa tidak nyaman di sepanjang perjalanan.
Satu kali perjalanan dari Muara Angke ke Pulau Pramuka atau sebaliknya menelan biaya sebesar Rp 30.000,00. Angka itu lah yang tertera di karcis waktu kami balik ke Angke. Namun fakta berkata lain. Saat perjalanan menuju Pulau Pramuka, 9 orang dari kami mengeluarkan ongkos berlainan. Intan, Yoe, dan Asri mengeluarkan ongkos Rp. 40.000,00. Gw, Desya, dan adiknya membayar Rp.35.000,00. Sedangkan 2 orang teman gw yang duduknya di atas, Fitri dan Ayu, merogoh koceknya sebesar Rp. 30.000,00. Nah, kalau mau harga yang lebih murah lagi, naik aja perahu nelayan seperti Suci. Suci hanya mengeluarkan biaya Rp 20.000 untuk satu kali perjalanan dari Angke ke Pulau Pramuka.
Snorkling time
Namun semua ketidaknyamanan kami selama 3 jam di perahu terbayar dengan indahnya pemandangan di Pulau Pramuka. Mata kami dihibur dengan gradasi warna air laut. Bagus banget!
Setelah puas foto-foto dengan background laut, kami pun bergegas untuk menunaikan kegiatan utama kami, yaitu Snorkling. Sayangnya gw nggak seberani teman-teman gw saat snorkling. Mereka sangat menikmati laut Jawa yang indah. Sedangkan gw sering panik duluan. Sedikit-sedikit nanya ke guide gw “mas, ko airnya masuk ya?”..”mas, ko saya suusah bangun ya?”..hahaha..
Walaupun gw panik, berkat pertolongan Desya, gw tetap snorkling. Desya membimbing gw selama snorkling. Alhasil gw tetap bisa menikmati indahnya bawah laut Jawa. Di balik google gw (gw lupa apa namanya) gw melihat karang-karang dan fauna laut yang lucu. Sayang karangnya kurang berwarna mungkin karena ulah manusia yang sering membuang zat-zat kimia ke laut.
Setelah kami merasa puas dengan acara snorkling, kami pun main air di Pulau Semak Daun (ayo siapa yang bilang nama pula ini Smack Down??). Acara bermain kami terhenti karena hari mulai senja. Namun, esoknya, kami melanjutkan permainan kami di Pulau Karya. Wuih..bagus banget pemandangan di pulau ini. Kedua pulau ini sama-sama eksotis. Keduanya juga bukan merupakan pemukiman penduduk seperti Pulau Pramuka dan Pulau Panggang.
Kuliner
Sayangnya, panorama yang indah di pulau ini nggak didukung dengan kuliner yang nikmat. Setidaknya buat kami begitu. Mungkin selera kami berbeda dengan selera orang lokal di pulau itu. Seafoodnya masih tercium amis walaupun sudah digoreng. Begitu juga rasa ayam bakarnya. Menurut Desya, rasa mie instan dan nasi gorengnya juga aneh.
Untuk mendapatkan makanan yang lebih sesuai dengan lidah kami, kami pun berburu makanan hingga ke bagian lain di pulau ini (kami tinggal di timur pulau dan berburu makanan hingga barat pulau), restoran pinggir pantai. Bahkan kami rela berlayar ke resto nusa di keramba, resto yang harganya sedikit mahal. Emang selera yang utama!!
Walaupun kuliner dan transportasi-nya membuat kami tidak nyaman, kami tidak jera untuk kembali ke pulau ini. Tentu, kami akan kembali dengan persiapan yang lebih matang sebelumnya. Enjoy Jakarta!!
Posted by: izza on: August 23, 2009
Apa rasanya kebab? Enak! Bagaimana rasanya jika setiap hari kita disuguhkan kebab dengan limpahan daging di atasnya? Wue…enek!! Begitulah rasanya jika lidah Asia seperti gw disuguhkan kebab isi daging kambing (kayanya) dalam 3 kali makan siang. Misalnya, siang itu, gw dan keluarga gw memutuskan untuk puasa makan kebab dan beralih ke selera asal, makan nasi. Tapi apa daya. Setelah naik trem ke Eminonu dan subway ke Taksim, nasi itu juga nggak kami temukan. Satu-satunya menu nasi yang tersaji di restoran adalah koften yang sebenarnya kebab juga. Ya sudah, karena rindu kami pada nasi, kami makan nasi dengan KEBAB lagi.
Setelah gw balik ke Indonesia, gw jadi berpikir bahwa makanan Turki (kayanya) nggak ada yang digoreng. Saat di pesawat, makanan tersaji mentah atau didressing olive oil atau paling poll dipanggang. Saat di Restoran, kebab –singkong goreng Turki-, saladnya pun cuma didressing dengan olive oil. Walaupun sehat , makanan itu terasa asing di lidah gw. Makanya, waktu diajak makan di restoran Cina, kami senang banget. Nggak pakai malu,, nggak pakai ragu,, kami makan dengan lahap di sana.
Walaupun makanan Turki kurang berbumbu, gw nggak pernah menemukan saus, kecap, apalagi vetsin di restoran Turki. Hanya di Burger King aja gw disajikan saus. Itu pun saus tomat. Bumbu yang tersaji saat makan hanya merica, garam, dan bubuk cabe. Ketiadaan bumbu-bumbu ini membuat makanan yang disajikan kurang mengairahkan. Hmm..Akhirnya, biar nggak mubazir, otak mesti diputar. Gw masukin aja semua bumbu-bumbu.Yah..lumayan lah!
Melihat menu makanan mereka, tampaknya pola makan orang Turki itu sehat ya? Bahkan sesuai sama piramida makanan. Mereka hanya mengkonsumsi bumbu secukupnya, lebih suka makanan tanpa digoreng, dan salad dengan dressing minyak zaitun. Tapi, gw sedikit binggung dengan konsumsi protein mereka yang-menurut gw- berlebih. Saat makan kebab, misalnya, komposisi nasi dengan daging-nya1 : 2. Kuantitas daging kira-kira 1, 5 kali karbohidratnya. Kebinggungan gw yang lain adalah mengapa mereka selalu menyediakan 2 jenis keju di dalam saladnya?
Anyone can answer it?!
Recent Comments